RSS

RENUNGAN KEBANGKITAN NASIONAL

17 Jun

Pada 10 Oktober 1905, lahirlah Serikat Dagang Islam, suatu gerakan organisasi yang bersifat nasional pertama di Solo, yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto. Organisasi ini beranggotakan para pedagang pribumi dan Islam  dari seluruh tanah Hindia Belanda, Aceh sampai Maluku. Dari catatan sejarah yang ada, hanya dalam waktu 14 tahun yaitu pada 1919, SDI yang berubah menjadi SI (1912) telah memiliki 2 juta orang anggota di seluruh tanah Hindia Belanda. Luar biasa, dalam masa tidak ada transportasi udara dan komunikasi telepon seperti sekarang ini. Gerakan ini lahir karena terbangun dari kesadaran bersama akan keterbelakangan dibidang ekonomi di kalangan islam dan pribumi yang jauh tertinggal dari golongan Cina, Timur Asign apalagi Eropa. Jadi kesadaran yang terbangun adalah kesadaran untuk maju dan berdiri sejajar dengan bangsa lain.

Tiga tahun berikutnya, pada 20 Mei 1908, hari Ahad jam 10 pagi di sekolah STOVIA, dibentuklah organisasi Budi Utomo, oleh para anak muda mahasiswa STOVIA, Soetomo Cs. Juga dengan semangat dan kesadaran untuk maju dan sejajar dengan bangsa lain, khususnya dari kalangan etnis Jawa dan Madura. Mereka sadar karena penduduk Jawa dan Madura terbelakang di banding bangsa lain di Hindia Belanda pada masa itu. Sebelumnya, bangsa lain di tanah Hindia telah memiliki organisasi antara lain organisasi Tiong Hoa yaitu Hwee Koan, dan Indische Bond bagi orang Indo Belanda. Soetomo dkk pun tidak ingin ketinggalan untuk membentuk gerakan bagi bangsa Jawa dan Madura. Gerakan inilah yang menginspirasi selanjutnya lahirnya, Jong Java, (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Islamieten Bond (1924), Jong Batak, Jong Cilebes Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Ambon dan lain-lain, yang kemudian bersatu mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Pada 18 November 1912, lahirlah pula Gerakan Perserikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Yogya dan selanjutnya Nahdatul Ulama, 31 Januari 1926.

Kelahiran SDI – SI serta Budi Utomo, semula merupakan gerakan sosial, budaya dan ekonomi, karena pada saat itu tidak memungkinkan untuk mendirikan gerakan politik karena pasti akan mengancam keberadaan penjajahan Belanda dan akan dilarang oleh penjajah. Akan tetapi karena tuntutan keadaan dan kebangkitan nasional gerakan-gerakan itu bermetamorfosa sebagai gerakan politik dan menjadi partai politik hingga menjadikan Indonesia merdeka. Pada 25 Desember 1912, lahirlah partai politik pertama di Indonesia yaitu Indische Partij, yang didirkan oleh tiga serangkai DR Dowes Dekker seorang pemuda Indo-Belanda, Cipto Mangunkusumo serta Ki Hajar Dewantara. Organisasi inilah yang pertama sekali meminta Indonesia merdeka. Karena itulah Indische Partij pada tahun 1913, dilarang oleh pemerintah Belanda.

Makna Kekinian Kebangkitan Nasional

Sekarang ini banyak dari kita yang merayakan hari kebangkitan nasional dengan fosmalitas, simbol-simbol, serimonial, dengan kata-kata bahkan untaian puisi. Sekarang, kita tidak butuh hanya untaian kata dan puisi pemberi semangati. Kita tahu betapa kebangkitan itu tertanam dalam jiwa dan kesadaran kita.

Kita tidak bisa lagi bangkit hanya sekedar dengan kata-kata, untaian puisi maupun juga heroik cerita. Kita harus bangkit melakukan gerakan, langkah-langkah nyata untuk kejayaan Indonesia. Bagi saya Indonesia sebagai sebuah bangsa telah lahir dan eksis. Karena itu nasionalisme tidak lagi kita tekankan pada memompakan kebangsaan Indonesia yang satu. NKRI dan lain-lain simbol lama. Itu adalah gerakan 100 tahun yang lalu, gerakan pada waktu sumpah pemuda, gerakan kemerdekaan dan gerakan awal membangun Indonesia merdeka yang baru mengenal bangsa. Sekarang sudah berbeda, sudah lain.

Lalu gerakan apa yang harus kita lakukan?

Gerakan lahir dari kesadaran dan kondisi sosial kehidupan yang melingkupi kita. Gerakan lahir dari kesadaran untuk berubah, berubah kepada yang lebih baik. Gerakan lahir tidak karena disuruh, diberikan, disuapin dan tidak karena hadiah. Tapi gerakan lahir karena kesadaran sendiri, mengambil, mencuri dan bahkan merampas. Yang penting untuk tujuan kebaikan, kebesaran dan kejayaan kita sebagai sebuah bangsa. Kalau tidak dengan cara itu, Indonesia tidak pernah akan merdeka, karena tidak pernah penjajah akan memberikan kemerdekaan itu.

Gerakan kebangsaan dalam kondisi kekinian, bukanlah lagi melihat ke dalam struktur masyarakat Indonesia karena masyarakat yang berstruktur seperti pada masa penjajahan Belanda sudah tidak ada. Pada masa Belanda mereka membuat gerakan karena masyarakat bumi putera terpinggirkan, dibanding Indo-Belanda, golongan Tionghoa serta bangsa-bangsa lain di Hindia Belanda.

SEKARANG, kita harus melihat Indonesia dalam kancah pergaulan dengan negara-negara lain. Kalau saja, bangsa lain tidak lebih maju dari kita, maka kita memiliki kekuatan dan kebanggan sebagai sebuah bangsa besar, bangsa Indonesia. Akan tetapi kita masih jauh dari itu, kita hanya bisa bangga sebagai bangsa dengan penduduk terbesar ke empat di dunia. Di dunia olahraga, bulu tangkis yang sejak lama telah merupakan kebanggaan kita, tetapi sekarang tidak lagi, apalagi dunia seni, film, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebersihan dan kedisiplinan di jalan. Semua tidak ada lagi yang kita banggakan. Industri pesawat terbang sebagai lonjatan teknologi tinggi yang menjadi kebanggaan, dipreteli dan bonsai menjadi kecil. Tidak ada lagi yang bisa kita banggakan sebagai sebuh bangsa.

Sekarang kalau kita ke luar negeri, atau di Asean saja, kita akan dilihat sebagai bangsa pekerja harian, bangsa pekerja kasar, buruh perkebunan, buruh bangunan dan pekerja rumah tangga. Di Timur Tengah, bangsa kita dipandang sebelah mata, karena terbanyak di sana sebagai khadam, istilah krennya pekerja rumah tangga, istilah agak kasar “pembantu rumah tangga”, istilah lebih kasar adalah ”babu” dan lebih kasar lagi adalah “budak”, dan inilah makna asal dari khadam itu. Sungguh tragis. Padahal negara kita adalah negara yang lebih dulu merdeka dari banyak negara-negara lainnya yang kini lebih maju.

Jadi, kesadaran yang harus dibangun adalah kesadaran akan kesedarajatan, serta kesadaran untuk menjadi lebih baik dari bangsa-bangsa lain. Kesadaran menjadi bangsa besar dan kesadaran untuk maju dan lebih unggul dari bangsa lain. Itulah yang harus menjadi kesadaran bersama kita anak bangsa ini.

Gerakan yang harus kita lakukan adalah gerakan untuk memajukan kecerdasan bangsa, gerakan untuk hidup disiplin dan terartur, gerakan menghargai waktu serta gerakan internationalize standard. Kita harus melihat standar kwalitas apaupun dalam kerangka standar internasional. Hanya dengan cara itulah kita bisa mengukur diri, apa kita masih berjalan di belakang, sudah di tengah atau di depan.

Untuk membangun gerakan itu kita tidak perlu menjadi bangsa peminta-minta. Bangsa yang selalu mengeluh kepada bangsa lain yang kini lebih kaya, karena hal itu akan tetap merendahkan martabat bangsa. Kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Kita harus bangun kesederajatan dalam hubungan dengan negara lain. Kita harus mengolah sumber daya alam dan sumber daya ekonomi kita untuk kebesaran bangsa kita. Kita tidak akan pernah menjual kekayaan alam untuk keuntungan bagi bangsa lain.

Kini, kita sangat prihatin, hanya untuk general check up kesehatan, pejabat dan orang-orang kaya Indonesia harus ke Singapura atau Malaysia. Untuk sekolah menengah atas apalagi perguruan tinggi harus ke luar negeri. Sekarang mahasiswa internasional yang sekolah di negeri kita, paling dari Timor-Timor. Sedangkan sebeleumnya banyak sekali mahasiswa Malaysia yang belajar di universitas-universitas kita. Kita mundur, mundur jauh ke belakang dari tetangga kita Malaysia dan Thailand, apalagi Korea selatan.

Kita prihatin manager-manager kunci di perushaan-perusahaan yang beropresi di Indonesia adalah manager dari bangsa lain, bahkan kita kalah jauh dari bangsa India. Pada organisasi-organisasi Internasional, kita kalau jauh dengan orang-orang bangsa Vietnam dan bangsa Pakistan. Hanya sedikit sekali dari bangsa kita yang bekerja pada organisasi-organisasi Internasional itu, padahal bangsa kita adalah negara dengan penduduk terbesar ke empat di dunia. Sungguh tragis.

Lalu apa yang harus kita lakukan! Kata kunci dari internasional standar itu adalah DAYA SAING. Kekuatan kompetisi. Inilah yang paling lemah dalam bangsa ini. NASIONALISME harus dibangun dengan kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang memiliki daya saing tinggi dalam segala aspek kehidupan. Karena itu sekali lagi gerakan yang kita bangun adalah gerakan penrcerdasan bangsa, kedisiplinan, keteraturan serta membangun kekuatan daya saing sebagai sebuah bangsa yang berada di tengah pergaulan dunia.

Gerakan Budi Utamo, Indische Partaj, PNI serta gerakan-gerakan pemuda yang melahirkan sumpah pemuda, diawali oleh diskusi-diskusi kecil di kalangan mahasiswa dan kaum terpelajar. Dalam kondisi kritis yang kita alami sekarang ini, peran pemuda, mahasiswa dan intelektual harus kembali tampil ke depan memulai gerakan itu. Kita tidak bisa menjadi besar, hanya dengan demo dan protes, walaupun demo dan protes itu sangat penting untuk mengasah kepekaan sosial. Lawan kita bukanlah siapa yang berkuasa sekarang ini, tetapi lawan kita adalah cengkaraman bangsa lain atas seluruh aspek kehidupan kita. Lawan kita adalah keterpurukan kita dalam kancah pergaulan dengan bangsa-bangsa lain. Lawan kita adalah kelemahan daya saing itu.

Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia yang terutama diperankan oleh pemerintah harus menjadikan persoalan ini menjadi gerakan dan program yang utama dan pertama. Kalau mereka tidak melakukan itu mari para pemuda dan mahasiswa ambil alih penentu kebijakan, menggantikan posisi mereka. Bergeraklah para pemuda, mahasiswa untuk kejayaan bangsa kita di masa depan yang menjadi milik kalian.

Wallahu a’lam. Semoga bahagia di Indonesia yang kita cintai ini, dan Allah selalu meridlai.

(Ini adalah Orasi Kebangkinan Nasional yang saya sampaikan di Universitas Islam Negeri Hidayatullah Jakarta, Mei 2008)

 

 

 

 
2 Comments

Posted by on June 17, 2008 in Makalah

 

2 responses to “RENUNGAN KEBANGKITAN NASIONAL

  1. anggun gunawan

    July 28, 2008 at 6:35 AM

    assalamu’alaikum pak.

    terima kasih atas kunjungan bapak di blog saya (http://grelovejogja.wordpress.com) beberapa waktu yang lalu.

    terkait dengan penampilan bapak di tv one beberapa waktu yang lalu, sungguh membuat saya terpukau. saya telah menyaksikan ulama, intelektual islam berhadapan dengan orang-orang JIL macam DR. luthfi as syaukani. tapi saya baru mendapatkan argumen yang menohok dan membuat mereka tak mampu membalas dari retorika memikat yang bapak sampaikan. sungguh saya kagum dengan kapabilitas yang bapak miliki.

    terus terang, selama ini saya cendrung golput karena saya antipati dengan parpol, termasuk dengan pks yang banyak diminati oleh teman-teman aktivis islam kampus. tapi pks tidaklah menarik hati saya. sebenarnya semenjak sma (di solok sumatera barat) saya sudah tertarik dengan PBB. ada pak Yusril yang pada waktu itu cukup dikenal, dan perjuangan PBB meneruskan perjuangan masyumi yang menjadikan saya kecantol dengan pbb.

    tapi seiring waktu ketika saya mulai kuliah di ugm, sikap antipati saya terhadap parpol telah meluruhkan kesukaan saya pada politik. apalagi jurusan saya di filsafat membuat saya merasakan terpuaskan secra intelektual.

    namun, setelah melihat debat yang bapak lakoni di tv one kemarin, seolah ada magnet yang menarik saya untuk mengenal pbb lebih jauh dan mengapa pbb digawangi oleh orang-orang cerdas seperti bapak tidak mendapat antusiasme dari rakyat indonesia.

    akhir2 ini kilas sejarah pak Muhammad Natsir semakin kentara diberitakan. ya, pak Natsir yang saya kagumi bersama dengan buya Hamka. dua sosok yang dibutuhkan oleh bangsa ini sekarang.

    jikalau memang pbb hendak meneruskan perjuangan Natsir dan hendak melegalkan syariat Islam lebih luas lagi di bumi peninggalan para mujahid Islam ini, maka saya akan dengan senang hati mengalihkan haluan saya dari seorang yang golput menjadi pemilih untuk pbb, seraya memperkenalkan perjuangan pbb sejauh yang saya bisa.

    sekali lagi saya mengucapkan atensi dan terima kasih atas kunjungan bapak di blog saya, yang menjadikan saya amat berbahagia di hari ini…

    demikian dulu dari saya pak. kalau ada kesempatan, esok akan saya sambung lagi. mudah2an bapak tidak keberatan menerima email2 saya selanjutnya…

    wassalamu’alaikum

    Anggun Gunawan – 23 Male
    Mahasiswa Filsafat UGM Yogyakarta
    Asal: Solok, Sumatera Barat

     
  2. hamdanzoelva

    August 11, 2008 at 5:24 AM

    Terima kasih Anggun!

    Saya baru buka lagi blog saya, karena kesibukan mempersiapkan PBB untuk pemilu dan keliling di bebarapa daerah. Jadi saya baru baca postingnya di blog saya. Terima kasih komentarnya dan dengan bahasa yang tulus bersedia bergabung dalam wadah perjuangan PBB. Kita terus berjuang memperjuangkan keyakinan yang kita yakini benar sampai kapan pun. Tahun 1989 (empat tahun sebeleum wafat), Natsir (almagfirullah) pernah berkata saya tidak takut pada masa depan, karena masa depan adalah milik ummat islam jika mereka istiqamah”. Inilah nafas dan semangat perjuangan yang selalu akan kita pegang teguh. Konsisten dan istiqamah.
    Salam hangat, Hamdan Zoelva

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: